Sangga Perkara di MA, Adik Ipar Nurhadi Disebut Pengacara Top

Jakarta, CNN Indonesia —

Legal PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT), Onggang JN  membaca status adik ipar mantan Carik Mahkamah Agung (MA) Nurhadi , Balasan Santoso  sebagai pengacara ‘top’. Kebaikan menjadi kuasa hukum PT MIT dalam melawan perkara PT Daerah Berikat Nusantara (KBN) pada level peninjauan kembali (PK).

“Yang upaya hukum PK [Peninjauan Kembali] ini yang menggarap Pak Rahmat Santoso, ” kata pendahuluan Onggang saat bersaksi dalam wasit Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (20/11).

PT MIT diketahui dipimpin Hiendra Soenjoto, tersangka suap Nurhadi & Rezky. Perusahaan itu bersengketa secara PT KBN terkait gugatan perjanjian sewa-menyewa depo container milik PT KBN seluas 57. 330 meter persegi dan 26. 800 meter persegi.


Jaksa penuntut umum KPK lantas mengonfirmasi peristiwa Rahmat yang disebut sebagai pengacara ‘top’ kepada Onggan. Namun, Onggan tak menjawab spesifik. Ia mengaku hanya dikenalkan oleh Legal Manager PT MIT FX Wisnu Pancara.

“Apa ada penyampaian dari Pak Hiendra yang lebih spesifik, soal pengacara top? ” timpal jaksa kemudian.

“Ya, jadi Pak Hiendra tersebut kan dekat dengan saya, beliau ini [Rahmat] dengan dia sukai yang dibilang terlatih atau dianggap punya kualitas sehingga disampaikan top kalau emang dirasa punya kualitas, ” kata  Onggang.

Di dalam sidang sebelumnya,   Rahmat  mengaku pernah ditawari imbalan senilai Rp10 miliar Hiendra Soenjoto dalam pengurusan perkara antara PT MIT melayani PT KBN  terkait gugatan konvensi sewa-menyewa depo kontainer milik PT KBN seluas 57. 330 meter persegi dan 26. 800 meter persegi.

Merasa Dikriminalisasi

Sementara itu, saksi lainnya, Direktur Keuangan PT MIT Azhar Umar mengaku telah dikriminalisasi oleh Hiendra Soenjoto terkait kepemilikan perusahaan tersebut. Azhar menyebut perkara tersebut bermula ketika keluarga Umar bersama Hiendra membentuk PT MIT.

Dalam perusahaan itu, ayah Azhar duduk sebagai komisaris, Hiendra sebagai direktur utama dan Azhar sebagai direktur keuangan.

“Kami dikriminalisasi, Pak, ” kata Azhar.

Azhar mengaku seluruh pemodalan terkait pengembangan perusahaan berasal daripada keluarganya. Ia menyebut sang abu bahkan menjaminkan aset keluarganya ke perusahaan.

Singkat rencana, kata Azhar, bisnis berkembang maka pada tahun 2007 mereka melaksanakan holding yang disebut Multigroup Logistic Company (MLC). Azhar menyatakan keluarganya sebagai pemilik saham mayoritas.

Menurut Azhar, ketika ayahnya meninggal dunia, posisi komisaris digantikan kakaknya Azwar Umar.

Namun, kata Azhar, Hiendra demi direktur utama tak bekerja dengan penuh tanggung jawab karena banyak proyek yang mangkrak. Karena tersebut, Hiendra diberhentikan sementara sebagai direktur utama.

Azhar mengatakan setelah Hiendra diberhentikan, dirinya mendapat telepon dari pihak bank yang menyampaikan bahwa Hiendra meminta perubahan tanda tangan pada bank tersebut.

“Saya sampaikan ke pihak Bank untuk tidak diakomodir karena yang bersangkutan diberhentikan sementara oleh komisaris selaku Dirut PT MIT. Pihak bank meminta surat tersebut, saya menodong pihak legal untuk mengirimkan indah secara email maupun surat, ” ujarnya.

Gugatan lantas muncul terkait dengan keputusan yang menyatakan Hiendra diberhentikan sementara sebagai dirut PT MIT dan keputusan perubahan komisaris PT MIT. Pada surat dakwaan, Hiendra meminta bantuan Nurhadi melalui Rezky agar dimenangkan dalam gugatan tersebut.

“Perdata ini sanksinya apa putusannya terhadap saksi? ” ujar jaksa Takdir Suhan.

“Ya, kalau menurut saya keberadaan bagian saya hilang. Saya katakan seperti itu. Khususnya di akta 116 di 25 Juni 2014, ” kata Azhar.

Azhar menyatakan dirinya juga menghadapi kejadian pidana atas laporan Hiendra ke kepolisian. Ia menyebut hal tersebut sebagai bentuk kriminalisasi.

“Berkaitan dengan di tanggal 18 Juni 2014 yang ada seruan informasi dari bank terkait masalah surat pemberhentian itu yang kesudahannya saya minta pihak legal kongsi untuk mengirim email ke bagian bank. Itu dijadikan Hiendra jadi pengaduan ke kepolisian. Pengaduan UNDANG-UNDANG ITE. Saya diadukan ke Kepolisian dan itu bergulir cukup betul lama, ” ujarnya.

Dalam perkara itu, Nurhadi bersama menantunya Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi senilai total Rp83 miliar terkait dengan pengaturan sejumlah perkara di lingkungan peradilan.

Untuk uang sogok, Nurhadi dan Rezky menerima uang sebesar Rp45, 7 miliar dari Hiendra, yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Kekayaan miliaran rupiah itu diberikan biar kedua terdakwa mengupayakan pengurusan perkara antara PT MIT melawan PT KBN.  

Sementara terkait gratifikasi, Nurhadi dan Rezky  didakwa menerima sebesar Rp37, 2 miliar terkait pengurusan perkara, baik di tingkat pertama, banding, kasasi dan peninjauan kembali sejak 2014-2017.

(ryn/fra)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.