Pengkritik: Taliban Paksa Perempuan Pengampu Tunggal Menikah

Jakarta, CNN Indonesia —

Pengamat isu perempuan Dhyana Paramita mengatakan tak mudah bagi rumpun perempuan hidup di  Afghanistan selama rezim Taliban .

Dhyana yang pernah menjadi staf Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Kabul antara 2019-2021, mengisahkan sejumlah kisah sedih yang pernah dialami kaum rani di Afghanistan di bawah cengkeraman Taliban.

Salah mulia contohnya adalah terkait pernikahan paksa kepada para hawa yang dilakukan Taliban.


“Kepala rumah tangga ( single parent ) hawa akan dipaksa kawin oleh orang Taliban di pelosok Afghanistan, ” ujar Dhyana dalam diskusi publik bertajuk Afghanistan dan Nasib Hawa di Bawah Pemerintahan Taliban di akun Youtube, LSM Setara.

Dhyana menganggap perempuan sama sekali tidak mendapatkan pilihan buat menentukan nasib sendiri di Taliban.

“Mereka (kaum perempuan di Afghanistan) dianggap obyek, bukan subyek, ” ujar Dhyana.

Dhyana juga meminta masyarakat terutama di Indonesia, jangan melilitkan kembalinya Taliban di Afghanistan dengan sentimen keagamaan.

“Di Afghanistan itu soal isu kemanusiaan, tidak isu agama. Ini perkara etnis, bukan masalah pelik. Segregasi etnis menyebabkan Afghanistan sulit bersatu, ” perkataan Dhyana.

“Jangan sampai ada glorifikasi kalau seolah ini kemenangan agama islam terhadap kafir. Berbahaya seluruhnya kalau sampai begitu, ” ia menambahkan.

Senada dengan Dhyana, Pengamat Politik Timur Tengah, Dina Sulaeman, melahirkan bahwa dinamika yang berlaku di Taliban sama sekali tidak ada hubungannya dengan isu-isu agama.

“Afghanistan tidak sedang baik-baik selalu. Situasi di sana jauh lebih buruk, ironis, ” kata Diana.

(tim/bac)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.