Pelapor Buka Alasan Polisikan 2 Direktur Alfamart

Jakarta, CNN Indonesia —

Kuasa asas dari CV. Andalus Rani Indonesia  Jimmy Manurung buka-bukan soal alasan kliennya mempolisikan dua petinggi PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart .

Ia mengatakan selaku konsumen usaha waralaba dan pemegang lisensi Alfamart, CV. Andalus Makmur Indonesia merasa dirugikan oleh perusahaan dan akhirnya melaporkan dua direktur Alfamart ke Polda Metro Hebat.

Kedua penasihat yang dilaporkan adalah Soeng Peter Suryadi dan Tomin Widian. Laporan disampaikan di dalam 6 Juni 2021 cerai-berai di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya.


“Kami mengadukan mereka berdua karena tapak tangan di perjanjian waralaba, ” kata Jimmy lewat rilis tertulis, Jumat (6/8).

Dia menyebut permasalahan berawal pada 19 September 2013 ketika Alfamart serta CV Andalus Makmur Indonesia yang diwakili Ihlen Manurung menandatangani perjanjian waralaba.

Pada awal kegiatan sama, CV. Andalus Makmur Indonesia menandatangani perjanjian perikatan di bawah tangan & tidak diaktanotariatkan dengan Alfamart.

“Selama lima tahun operasional, klien saya merasakan banyak kejanggalan. Pantas dengan isi kontrak, seharusnya CV. Andalus Makmur Nusantara sebagai franchisee diberikan pelatihan cara mengelola toko. Tetapi menurut Jimmy, Alfamart justru yang mengelola sendiri gardu tersebut tanpa melibatkan klien kami sama sekali. Oleh sebab itu klien kami seperti mati, ” terangnya.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, Jimmy menyebut kliennya tak pernah mendapat dokumen pembicaraan keuangan dan akuntansi detail dari pihak Alfamart terkait jumlah penjualan barang, berapa yang laku, harga sari, serta margin keuntungan setiap barang yang dijual.

“Sampai akhirnya klien kami bersurat ke Alfamart untuk penutupan toko dalam September 2018, ” ujarnya.

Setelah itu, Jimmy menyebut kliennya memperoleh laporan tagihan utang senilai Rp66 juta dari Alfamart. Ihlen mengaku terkejut pandangan tagihan tersebut karena tak disertai dengan laporan keuangan yang jelas serta fakta pendukung laporan keuangan.

Dia menyebut tidak berselang lama, Alfamart justru menganulir tagihan tersebut serta menyatakan terdapat keuntungan Rp19 juta bagi CV. Andalus Makmur Indonesia.

“Klien ana tetap menolaknya karena kongsi lagi-lagi tidak memberikan dasar dari munculnya angka-angka itu, ” beber Jimmy.

Setelah itu, kliennya melakukan pertemuan lanjutan pada kantor Alfamart di kawasan Alam Sutera, Tangerang. Pada sana, angka keuntungan dengan ditawarkan perusahaan kepada CV. Andalus Makmur Indonesia berubah dan naik menjadi Rp350 juta.

Jimmy mengatakan Ihlen tetap menegah tawaran karena tidak tersedia laporan keuangan yang uraian mengenai operasional selama lima tahun. Selain itu, dia merasa nilai keuntungan dengan diterima seharusnya lebih mulia dari yang perusahaan beberkan secara sepihak.

“Apa dasarnya yang awalnya tagihan Rp66 juta lalu kami ditawarkan Rp19 juta, lalu ditawarkan Rp350 juta? Ini menjadi tanda tanya besar, ” kata dia.

Jimmy juga mempertanyakan dasar dari munculnya angka-angka itu. Karena itu, dia meminta perusahaan memberikan seluruh salinan dan bukti pendukung masukan keuangan sejak 2013-2018 dibanding toko kliennya.

“Dari awal CV. Andalus Makmur Indonesia mendesak menodong bukti pendukung laporan keuangan secara lengkap supaya saya bisa mengetahui dasar pengenaan hutang/tagihan yang dikirim Alfamart kepada klien kami, ” tambahnya.

Bertambah jauh, ia menyebut Ihlen juga mempermasalahkan terkait insiden pengusiran yang dilakukan empat satpam Alfamart. Ia mengaku sempat mendatangi kantor Alfamart untuk meminta dibuatkan kesepakatan bertemu dengan Direktur Franchise Alfamart guna meminta keterangan keuangan detail mengenai operasional toko.

Di sana, Ihlen secara tidak sengaja bersomplokan dengan General Manager Franchise Alfamart Tommy Sugianto dan terjadi perdebatan yang berujung pengusiran dengan diinstruksikan sebab Tommy.

Jimmy mengatakan kedua direktur dilaporkan ke polisi atas sangkaan penipuan dan penggelapan. Pasal yang digunakan yaitu 378 KUHP dan 372 KUHP. Menurut dia, laporan telah diterima oleh Polda dan Ihlen telah dimintai keterangan.

Ia menambahkan minggu depan pihaknya juga berencana menyurati Bursa Efek Nusantara (BEI) dan Komisi VI DPR untuk melaporkan permasalahan ini.

Sebelumnya Alfamart menengkari dua direktur mereka sudah melakukan penipuan.

“Terkait dengan transparansi keterangan keuangan, perseroan telah menyerahkan laporan keuangan berupa neraca, laporan laba rugi, wacana besar, dan rekening koran setiap bulannya selama gardu tersebut beroperasi sejak 2013 sampai dengan 2018, ” jelas Alfamart dalam pemberitahuan yang mereka sampaikan pada keterbukaan informasi publik BEI pada Senin (2/8) lulus.

(wel/agt)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.