Ojo Mudik, Lagu Terakhir Didi Ceduk untuk Para Perantau

Ojo Mudik, Lagu Terakhir Didi Ceduk untuk Para Perantau

Jakarta, CNN Indonesia — Didi Kempot   masih membuat karya sebelum meninggal dunia. Beberapa hari berantakan, ia resmi merilis lagu Ojo Mudik yang merupakan karya dan pesannya kepada para penggemar yang merantau di tengah pandemi.

Lagu tersebut bahkan menggandeng sebanyak pejabat di Solo, seperti Walikota FX Hadi Rudyatmo, Komandan Kodim 0735/Surakarta Letkol (Inf) Wiyata Sempana Aji, dan Kapolresta Surakarta AKBP Andy Rifai.

Rani dimulai dengan gending gamelan yang diiringi suling dan permainan kibor. Didi Kempot dan Walikota Solo pun muncul di awal gambar.



Mak Bedunduk/ Mak Pethungul / Virus Corona nengapa kowe njedhul // Mak Bedunduk/ Mak Pethungul / aja cedhak-cedhak awas aja padha ngumpul // ” lantun Didi yang menggambarkan kekesalan dirinya atas kemunculan virus corona yang mendadak dan memperingatkan masyarakat tak saling berkumpul.
Video tersebut selanjutnya menggambarkan gerakan untuk saling melindungi jarak, cuci tangan, pakai kedok oleh para petugas TNI serta Kepolisian, juga masyarakat. Didi juga meminta penggemarnya untuk berdoa dengan keras dan bersatu melawan corona agar segera selesai.

Neng omah wae / di rumah saja / bersama-sama ayo lawan corona // ” lantun Didi.

Kemudian, suara Didi Kempot muncul mengimbau kepada seluruh masyarakat buat tidak mudik terlebih dahulu. Ia menyebut keluarga di kampung halaman pasti memahami terkait kondisi dengan sedang terjadi.

[Gambas:Youtube]

Rani ini merupakan salah satu cara Didi Kempot membantu pemerintah serta masyarakat melawan pandemi. Dia selalu sempat terlibat dalam konser kebaikan untuk penanggulangan virus corona.

Selain lagu Ojo Pegangan, Didi Kempot sebelum meninggal dunia juga baru saja menyelesaikan lagu Yuni Shara. Hal itu diakui oleh kakak kandung Didi Kempung, Lilik.

“Berangkat ke studio menyelesaikan lagu Yuni Shara, ” ujar Lilik saat ramah dengan CNN TV, Selasa (5/5).

Setelah itu, guru tubuh Didi panas ketika kembali dari studio. Didi kemudian berencana ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.

Asisten direktur humas RS Kasih Ibu, Divan Fernandez, mengatakan bahwa Didi dilarikan ke tempatnya bekerja, tapi nyawanya tak tertolong.

Didi Kempot adalah salah satu wujud dalam musik Indonesia, terlepas sebab namanya kian viral melambung dalam beberapa tahun terakhir. Musisi kelahiran 31 Desember 1966 ini sejatinya telah bermusik sejak 1984. Dia menjalani karier bermusik dari periode yang amat bawah, menjadi pengamen.

“Saya mengamen mulai 1984, masih remaja usia 18 tarikh. Belajar gitar otodidak, gitar tersebut saya dapat dengan nekat, menjual sepeda pemberian ayah saya buat dibelikan gitar, ” kata Didi saat berbincang dengan CNNIndonesia. com pada Solo, Juli 2019.

Namun bakat seni musik yang berasal dari sang ayah mengalir deras dalam nadinya. Hal itu kemudian membantu Didi dalam menciptakan lirik yang mampu membuat pendengarnya tergugah.

Didi Kempung sudah menghasilkan puluhan album, setidaknya yang tercatat ada Stasiun Balapan (1999), Modal Dengkul, Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005).

Bahkan, dirinya membicarakan sudah membuat sampai 700 pembawaan sepanjang dia berkarier meskipun kini pencatatannya masih dalam proses.

[Gambas:Video CNN]

(end)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.