Mengukur Negara Mujur dan Babak Belur dalam Resesi Corona

Mengukur Negara Mujur dan Babak Belur dalam Resesi Corona

Jakarta, CNN Indonesia —

Pandemi  virus corona atau covid-19 yang mulanya hanya menyebabkan kritis di bidang kesehatan , kini menjalar ke mana-mana. Salah satu zona yang terkena adalah ekonomi .

Bahkan sejumlah negara telah mengalami resesi ekonomi akibat virus tersebut. Negara itu mulai dibanding Singapura, Korea Selatan, Jerman, had Amerika Serikat.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal memperhitungkan tak hanya negara itu yang akan mengalami resesi. Hampir semua negara akan merasakannya.


Pasalnya, virus corona telah menekan aktivitas ekonomi. Bahkan, tekanan ekonomi disebut akan mengembari momen depresi ekonomi yang terjadi selama satu dekade pada 1929 sampai 1939 atau dikenal secara istilah The Great Depression.

“Meski rasanya tidak bakal jauh lebih parah atau menjelma yang terparah sepanjang sejarah, sebab setelah pelemahan ekonomi pada tarikh ini diperkirakan bisa membaik pada tahun depan, sehingga resesi tidak berujung depresi, ” ucap Fithra kepada CNNIndonesia. com, Senin (3/8).

Perkiraannya  sejalan secara proyeksi beberapa lembaga ekonomi dan keuangan internasional yang memperkirakan ada kebangkitan ekonomi pada 2021. Bank Dunia misalnya memperkirakan ekonomi dunia bisa berada di kisaran 4 persen pada 2021.

Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bisa mencapai kisaran 5 persen. Padahal sebelum pandemi corona terjadi, ekonomi dunia hanya beruang di kisaran 2-3 persen.

[Gambas:Video CNN]

“Jadi setelah resesi belum tentu ada depresi. Masalah era ini karena covid-19, maka masa covid selesai, vaksin ditemukan, tersedia peluang rebound ekonomi, ” tuturnya.

Menurut Fithra, yang saat ini harus dipikirkan adalah seberapa di pelemahan dan resesi yang hendak dialami oleh masing-masing negara. Siapa juga yang sekiranya akan menyesatkan babak belur dan mampu menetap akibat masalah tersebut.

Setelah itu memikirkan seperti bagaimana strategi untuk mengembalikan ekonomi kaya kondisi sebelum pandemi. Bahkan, jauh lebih baik dari itu.

“Tinggal mengukur siapa yang lebih dalam dan tidak beserta cara pulihnya, ” imbuhnya.

Fithra melihat negara-negara yang berpotensi berada di dasar jurang resesi alias mengalami pelemahan ekonomi parah adalah mereka yang kemajuan ekonominya bergantung pada perdagangan serta rantai pasok global. Kebetulan, mereka adalah negara-negara yang sudah beruang di jurang resesi saat ini, mulai dari Singapura, Korea Daksina, Jerman, negara-negara Uni Eropa, tenggat AS.

“Mereka punya ketergantungan yang tinggi pada perdagangan global. AS, biar populasinya cukup tinggi, namun ketergantungan juga tinggi pada global value chain , ini berbeda dengan China yang meski berperan di perdagangan global, akan tetapi dorongan dari ekonomi domestiknya mulia, ” terangnya.

Tengah negara yang setidaknya punya daya tahan lebih dari resesi ekonomi adalah  mereka yang ekonominya lebih dominan ditopang oleh konsumsi asosiasi domestik. Misalnya, China.

Selain itu, Indonesia juga memiliki peluang. Bahkan, Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup primitif dalam global value chain. Di satu sisi, hal ini ialah sebuah keterpurukan karena tidak berpunya mendapat pertumbuhan dari rantai pasokan global.

“Di masa normal saja, paritisipasi global value chain , gaya saing, minat investasi, hingga gaya kerja kita kalah dari negara lain, termasuk sesama di ASEAN. Tapi ibaratnya blessing in disguise , ternyata efek kontraksi dari ekonomi global tak terlalu mengganggu kita karena bagian ekonomi lebih banyak dari penggunaan domestik, ” jelasnya.

Hal ini, cakap Fithra, setidaknya tercermin dari indeks manufaktur (PMI) Indonesia yang justru meningkat ketika resesi menghantam beberapa negara. PMI Indonesia sempat mengenai kisaran 51 pada Februari 2020.

Lalu, anjlok ke level 27, 5 pada April 2020. Namun kemudian bangkit ke kisaran 28, 6 pada Mei, 39, 1 pada Juni, & 46, 9 pada Juli 2020. Menurut Fithra, meski masih di bawah 50, tapi sudah ada geliat perbaikan ekonomi akibat kebijaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilonggarkan.

Kendati begitu, keuntungan dari sisi sistem ekonomi Indonesia bukan berarti telah aman. Indonesia, katanya, juga bisa terjebak di jurang resesi masa tingkat konsumsi masyarakat tidak dijaga.

Hal ini bisa dimulai dengan menjaga daya beli masyarakat. Khususnya dengan mempercepat bervariasi stimulus yang sudah dipetakan  mulai dari bantuan sosial (bansos) mematok insentif bagi dunia usaha.

“Tapi semua akan gegabah kalau stimulus yang sudah disiapkan tidak dimanfaatkan dengan baik. Siap ketika PSBB ini sudah pergantian, ini adalah momentum  untuk meningkatkan konsumsi masyarakat melalui peningkatan daya beli mereka, ” ungkapnya.

Senada, Ekonom dari Perbanas Institute Piter Abdullah Redjalam mengatakan semua negara dalam dunia punya peluang resesi, status mengukur seberapa dalam dan lama resesi itu terjadi. Untuk kedalaman, Piter melihat memang negara-negara yang punya ketergantungan ekspor yang agung yang akan berada di lurah resesi, maka tak heran bila Singapura sudah lebih dulu berharta di wilayah tersebut.

“Indonesia meski tidak bisa menghindari resesi, tapi kontraksi yang berlaku tidak akan terlalu besar. Di kuartal II 2020 diperkirakan kontraksi sebesar minus 4 persen datang minus 6 persen, jauh lebih mild dibandingkan kontraksi yang dialami Singapura, ” kata Piter.

Sementara dari sisi durasi, Piter melihat negara yang mampu cepat tanggap mengeluarkan dan mengarahkan kebijakan stimulus berpeluang mengalami resesi yang relatif singkat. Sementara dengan tidak sigap justru akan terjebak dalam resesi, bahkan bukan tak mungkin mengalami depresi ekonomi.

Hanya saja berbeda dengan Fithra, kondisi krisis ekonomi akibat pandemi corona kali ini bisa membuat daftar sejarah sebagai krisis ekonomi terbesar. Sebab, krisis menyerang hampir semua negara di dunia.

“Secara magnitude ini adalah krisis terbesar, tetapi diyakini krisis itu akan jauh lebih singkat dipadankan The Great Depression, ” ujarnya.

Likuiditas Negara Donor

Di sisi lain, kritis ekonomi akibat pandemi corona menghasilkan banyak negara harus memberikan provokasi fiskal dan moneter kepada masyarakat. Hal ini kemudian memberikan hasil tingginya kebutuhan dana untuk penanganan dampak pandemi corona dan rencana pemulihan ekonomi.

Masalahnya, tidak semua negara punya kekuatan dana yang serupa. Banyak negara-negara pada dunia yang harus mengandalkan lembaga donor seperti Bank Dunia & IMF untuk memperoleh pinjaman.

Menurut Fithra, hal tersebut bisa menggerus likuiditas yang tersedia di lembaga-lembaga donor tersebut. Apalagi, lembaga-lembaga itu bergantung pada negara2 maju yang kini juga kudu mengucurkan likuiditas besar ke masyarakat dan pasar unutk menopang ekonomi.

“Tentu bukan tidak mungkin likuiditas mereka menipis, apalagi sumbernya dari negara maju, dari AS, yang sekarang juga kucurkan banyak likuiditas sendiri ke pasar, ” ungkap Fithra.

Secara teknis, sesungguhnya aliran likuiditas AS yang lulus besar bisa dimanfaatkan negara-negara pada dunia untuk mendapat sumber dana, termasuk Indonesia. Persoalannya, likuiditas ke pasar AS justru terjebak di pasar modal mereka.

Para investor tampak masih cukup khawatir untuk masuk ke negeri berkembang. Bahkan, investor cenderung memeriksa instrumen investasi aman alias safe haven seperti emas.

Untuk itu, ia menilai menetapkan perjanjian kerja sama yang lebih kuat di regional agar negara2 di dunia tidak terjebak di dalam minimnya ketersediaan likuiditas untuk memenuhi kebutuhan biaya penanganan dampak pandemi corona.

“Maka mampu dibuat seperti Chiang Mai Initiative, perkuat basis pinjaman di regional, ” imbuhnya.

Sebaliknya, Piter melihat kondisi likuiditas para lembaga donor masih akan aman dan bisa menutup kebutuhan beberapa negara di dunia. Namun benar, alokasinya akan lebih diprioritaskan ke negara-negara miskin misalnya.

“Akan ada jalan bagi World Bank dan IMF untuk mengunci kebutuhan negara-negara tersebut. Tapi benar konsekuensinya adalah utang negara itu akan meningkat, ” pungkasnya.

(agt)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.