Mangkir Thomas Uber Tak Berarti Nusantara Kalah Sebelum Perang

Mangkir Thomas Uber Tak Berarti Nusantara Kalah Sebelum Perang

Jakarta, CNN Indonesia —

Indonesia memutuskan mundur dari medan Piala Thomas dan Uber 2020 . Keputusan yang berat untuk diambil namun paling logis untuk dijalankan.

Mengacu pada hitung-hitungan di atas kertas, Indonesia memiliki peluang bagus terutama untuk merebut  Piala Thomas tahun ini. Skuad  Merah-Putih punya materi pemain dengan mentereng di nomor tunggal & ganda.

Bahkan untuk nomor ganda anak, Indonesia punya dua pemain di posisi teratas dunia lewat eksistensi Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.



Belum sedang nama lain yang bakal menghias skuad  macam Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang menjadikan Indonesia primadona pertama di turnamen tersebut.

Namun keputusan sudah diambil. PBSI mengumumkan Indonesia tak mengikuti turnamen tersebut.

Trofi juara memang menggoda, namun kesehatan dan keselamatan pemain jelas pasti jadi yang utama. Pedoman tersebut yang diyakini PBSI dalam pengambilan keputusan ini.

Susy  Susanti dan Pengurus PBSI  lainnya memutuskan Indonesia absen di Piala Thomas dan Uber 2020. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)

Beda Bulu tangkis dan Olahraga Lain yang Telah Bergulir

MotoGP, NBA, UFC, Sepak Bola Eropa, UFC, dan turnamen grand slam tenis memang sudah berjalan. Namun ada karakter kuat yang membedakan peristiwa tersebut dari turnamen badminton, khususnya Piala Thomas dan Uber 2020.

Di MotoGP, semesta seri sejauh ini berada pada Eropa, kawasan yang dianggap sudah bisa mengontrol penyebaran virus corona. Protokol ketat diterapkan sehingga masa ada pembalap yang positif corona, ia tak akan bisa tampil di seri terdekat. Jorge Martin positif corona dan tak mampu tampil di MotoGP San Marino.

NBA juga telah bergulir memasuki babak play-off . Namun NBA dipusatkan di satu tempat yaitu Disneyland Orlando sehingga pemain-pemain terisolasi dibanding kerumunan dan mereka diikat oleh protokol ketat.

Menggampar bola Eropa sudah ramai namun laga seperti Liga Inggris serta La Liga merupakan kompetisi pribumi yang bisa lebih mudah diatur dalam mobilitas para pemain.

Sementara untuk Liga Champions dan Liga Europa, UEFA kemarin sudah menetapkan laga di mulia tempat dan tanpa penonton sehingga prokotol ketat dan isolasi sebab ‘dunia luar’ bisa dilakukan dengan baik.

Grand slam US Peduli sudah berjalan namun tenis lebih kepada turnamen individu. Ia tak melibatkan banyak orang di dalamnya sehingga keputusan bisa diambil dengan lebih mudah dan tak melibatkan banyak kepala.

UFC olahraga individu yang tidak melibatkan banyak orang dalam tim sehingga keputusan lebih mudah diambil. (AFP/Douglas P. DeFelice)

Pun demikian halnya dengan UFC. UFC bahkan punya prosedur protokol kesehatan yang ketat dengan memandang petarung menjalani beberapa tes PCR selama periode pertarungan. Seorang petarung bakal batal berlaga ketika ia terbukti positif corona beberapa keadaan sebelum pertandingan. Sebagai olahraga pribadi, pengaturannya bakal lebih mudah.

Hal-hal itu yang  sulit ditemukan di badminton. Badminton World Federation (BWF) sebagai organisasi dunia untuk olahraga ini juga tampak kebingungan dengan langkah yang bahan mereka ambil.

Situasi ini terlihat dari penetapan BWF yang penuh keyakinan pada turnamen-turnamen seri BWF di bulan Agustus dan selanjutnya. Namun penetapan itu akhirnya berantakan karena satu bohlam satu negara yang jadi majikan rumah bergantian mengundurkan diri serta membatalkan turnamen.

Piala Thomas dan Uber 2020 kemudian jadi harapan BWF untuk bisa kembali melakukan restart dan mengembalikan agenda turnamen.

Namun secara situasi pandemi corona, BWF kudu berjuang keras untuk mendapatkan jaminan dari Aarhus, Denmark yang oleh sebab itu tuan rumah turnamen.

Piala Thomas dan Uber 2020 adalah turnamen beregu yang bakal melibatkan banyak orang di tempat dan waktu yang sama. Sebanyak kejuaraan beregu di Eropa selalu sejatinya sudah mengalami penundaan seolah-olah Piala Eropa 2020 dan Piala Eropa U-19.

Gregoria Mariska dan kawan-kawan tak tampil di Piala Uber 2020. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)

Selain itu, Piala Thomas & Uber 2020 bakal membuka gerbang untuk negara-negara dari Asia. Sejauh ini negara-negara Asia masih berjuang untuk menjinakkan pandemi corona dan hal ini jelas jadi petunjuk utama.

Dengan menunaikan Piala Thomas Uber 2020, lingkup peserta bakal lebih besar karena dari seluruh penjuru dunia, bukan hanya sekadar dari satu kontinental saja.

Butuh kontrol yang sangat ketat dari badan turnamen untuk bisa memastikan kalau tim-tim yang datang sudah terlepas dari ancaman virus corona.

Pandemi corona ini sendiri adalah situasi yang butuh penilikan dari minggu ke minggu atau bahkan hari ke hari. Status bisa berubah dalam kurun waktu tersebut sehingga pelaksanaan Piala Thomas dan Uber bakal terus dipantau serius hingga hari terakhir menghadap turnamen dimulai.

Risiko dari Aspek Teknis

Dalam beberapa gelaran olahraga yang sudah berjalan, ada sejumlah pemain dan atlet dengan terbukti positif corona. Tentu sulit memastikan bahwa protokol ketat bahan menggaransi kompetisi tersebut 100 persen bebas corona.

Tetapi bila kasus positif terjadi dalam liga sepak bola Eropa, situasi itu ‘tak bakal terlalu berpengaruh’ lantaran mereka adalah kompetisi masa panjang. Pemain yang terindikasi meyakinkan corona bakal menjalani isolasi mandiri atau perawatan, tak masuk tim hingga ia dinyatakan sembuh mutlak.

Masih banyak langgar tersisa untuk sang pemain yang positif corona untuk bisa kembali tampil dan unjuk gigi di lapangan.

Sedangkan buat MotoGP dan UFC, satu olahragawan yang positif dan terpaksa tawar tampil, hal tersebut hanya mau mempengaruhi diri sendiri mengingat keduanya adalah olahraga individu.

Dari aspek teknis, suatu tim bakal rugi besar masa seorang pemain terbukti positif corona di tengaj turnamen berlangsung. (Dok. PBSI)

Sementara tersebut pelaksanaan Piala Thomas dan Uber 2020 adalah kejuaraan beregu yang hanya berlangsung selama sembilan keadaan. Dalam situasi pandemi, tentu setiap tim harus memikirkan risiko terburuk, yaitu anggota tim terpapar virus corona.

Sulit untuk sepenuhnya bersikap optimistis saat maju mengikuti turnamen di tengah pandemi corona yang penularannya terhitung mudah-mudahan.

Bila satu karakter pemain terkena virus corona, tentu hal itu langsung menggoyahkan tim, baik dari sisi mental maupun teknis.

Dari bagian mental, tim tersebut bakal harus bisa bermain dengan kondisi pelajaran rekan setimnya terpapar virus corona.

Dari sisi teknis, satu orang positif corona bahan melemahkan kekuatan tim yang hanya bakal berisi 10 orang.

Situasi bakal makin membatalkan bila menimbang kemungkinan satu daerah penginapan ditempati oleh dua pemain. Selain itu ada aktivitas beserta yang dilakukan sepanjang persiapan awak di lokasi pertandingan.

Begitu satu orang positif corona, ada peluang pemain lain dengan ada di tempat tersebut pula menyusul positif corona. Semakin banyak pemain yang terkena corona, tentu kekuatan tim bakal makin pengkor dan bahkan sampai pada efek tak bisa bertanding lantaran kekurangan orang sehat.

Dengan durasi hanya sembilan hari, pemain yang positif corona kemungkinan tak akan bisa tampil lagi & waktu mereka di sana cuma akan dihabiskan untuk menjalani isolasi atau bahkan perawatan intensif.

Situasi bakal lebih menyebalkan bagi tim bila pemain mereka terkena virus corona di fase akhir turnamen seperti babak semifinal atau final. Belum lagi maklumat PBSI  yang menyebut mereka sedang belum paham tata cara BWF  tentang pihak yang bertanggung pikiran andai ada kasus positif corona di tengah turnamen.

Kemungkinan-kemungkinan terburuk itulah yang bakal dihadapi Indonesia bila mengikuti Piala Thomas serta Uber. Patut diingat, Tim Indonesia bakal melalui perjalanan panjang menuju Denmark sehingga ada risiko terpapar di perjalanan sebelum risiko lain terpapar ketika pertandingan.

Indonesia sudah membuat keputusan buat tidak mengikuti pertandingan. Keputusan itu berdasar suara hati banyak pemain yang resah pada aspek kesejahteraan dalam persiapan keberangkatan. Keresahan tersebut yang kemudian jadi dasar bagi PBSI untuk memutuskan pembatalan keikutsertaan.

Indonesia mundur bukan lantaran tak punya persiapan. Indonesia justru memutuskan mundur setelah melaksanakan persiapan dengan baik sambil terus memantau situasi yang berkembang.

Latihan harian sudah rutin dilakukan dan tiruan telah dijalankan. Saat akhirnya kesimpulan mundur diambil, itu adalah kesimpulan yang disuarakan setelah melihat kelanjutan terakhir  pandemi corona di bintik ini.

Mundur sebab Piala Thomas dan Uber 2020 bukanlah berarti Indonesia kalah pra berperang.

Mundur dari Piala Thomas dan Uber 2020 berarti kesadaran bahwa keselamatan dan nyawa pemain-pemain badminton Indonesia dalam atas segalanya, tak goyah sebab godaan membawa pulang Piala Thomas yang sudah hilang sejak belakang kali direbut 18 tahun kelam.

(nva)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.