Keluh Kesah Pesepakbola di Satu Tarikh Jokowi-Ma'ruf

Keluh Kesah Pesepakbola di Satu Tarikh Jokowi-Ma’ruf

Jakarta, CNN Nusantara —

Sejumlah pesepakbola bersuara terkait satu tahun kemampuan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) dan Wakil Presiden Ma’ruf Mengabulkan memimpin Indonesia.

Pesepakbola yang resmi menyandang status Masyarakat Negara Indonesia (WNI) pada 27 September 2019, Otavio Dutra, menyuarakan setahun ke belakang menjadi objek yang sangat sulit buat olahraga Indonesia, khususnya sepak bola. Kondisi pandemi Covid-19   menjadi penyebabnya.

“Tahun ini segala sesuatunya sangat suram di semua sisi dalam menampar bola. Semua kompetisi juga dihentikan tetapi kami harus melanjutkan secara harapan bahwa semuanya akan balik normal secepat mungkin kami tak memiliki jalan keluar lain selain pikiran positif, ” kata Dutra penggawa Persija Jakarta kepada CNNIndonesia. com, Senin (19/10).


Dutra membandingkan Indonesia dengan negeri lain yang sudah mulai melaksanakan kompetisi di tengah pandemi. Ia menyayangkan hal itu belum mampu terjadi di Indonesia lantaran bagian kepolisian tidak mengeluarkan izin keramaian  untuk Liga 1 2020.

Real menurut Dutra dari olahraga tersebut industri suatu negara bergerak. Ujung-ujungnya, perekonomian bisa berputar termasuk bagi para pelaku olahraga dan seluruh yang ikut andil di dalamnya.

“Saya berdoa supaya Indonesia bisa segera mengembalikan sepak bola karena di sepak bola beberapa orang kerja dapat duit buat beli makan ke keluarga. Makin sepak bola juga bikin banyak orang senang di rumah sebab bisa nonton di TV, menghilangkan stres apalagi di momentum ini. Jadi sepak bola itu sangat penting untuk ekonomi, kesehatan serta bisa buat orang senang selalu, ” sebutnya.

Senada Kapten PSM Makassar yang selalu eks pemain Timnas Indonesia Zulkifli Syukur merasa tidak ada perubahan berarti di dunia olahraga khususnya sepak bola setahun ke dapur. Perubahan justru terlihat jelas kala Indonesia masuk di kondisi pandemi Covid-19.

Liga 1 2020 tidak mendapat kerelaan keramaian dari kepolisian. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Komitmen untuk melanjutkan kompetisi Liga satu 2020 di tengah pandemi terhambat izin dari kepolisian. Instruksi Pemimpin (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Persepakbolaan Nasional dengan terbit 14 Februari lalu bertolak belakang dengan kondisi yang berlaku saat ini.

Bukannya percepatan, namun tidak adanya izin keramaian dari kepolisian justru dianggap jadi penghambat percepatan itu tunggal.

“Sekarang saja perizinan susah walaupun itu ranah kepolisian, tapi kalau ada perintah daripada presiden, Polri bisa langsung menganjurkan izin. Jadi Inpres itu bertolak belakang dengan yang di lapangan. Apalagi kita mau jadi majikan rumah Piala Dunia. Jadi tidak cukup sekadar lewat Inpres kalau tidak ada realisasinya, ” ungkap Zulkifli.

Zulkifli sangat berharap Pemimpin Jokowi bijak dalam memberikan perizinan. Terlebih kompetisi sepak bola bagaikan Liga 1 akan digelar secara menerapkan protokol kesehatan yang cermat.

“Kenapa Pilkada diizinkan tetapi sepak bola yang memakai protokol ketat tidak? Kami, menggampar bola, rakyat juga, tapi kenapa mereka [Pilkada] dibolehkan. Malah terkesan mereka tutup mata serta telinga, terkesan tidak ada apa-apa. Dibilang riskan, lebih riskan pilkada dibanding sepak bola, ” jelasnya.

Di sisi lain Zulkifli mengatakan sepak bola melekat hidup dan hajat massa. Faktanya, banyak orang yang menggantungkan tumbuh di sepak bola.

(TTF/har)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.