IDI Ungkap Sebab Kasus Corona Masih Sangat Tinggi di Jatim

IDI Ungkap Sebab Kasus Corona Masih Sangat Tinggi di Jatim

Jakarta, CNN Indonesia —

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ) Jawa Timur Achmad C. Romdhoni mengungkapkan sejumlah kendala yang menyebabkan urusan virus corona di  Jawa Timur masih tinggi. Target Kepala Joko Widodo agar Jatim segera mengendalikan persebaran kasus selama perut pekan pun tak tercapai.

Berdasarkan data 10 Juli 2020, jumlah kasus corona dalam Jatim mencapai 15. 484 kejadian. Tertinggi tingkat nasional.

“Permasalahannya ada di hulu. Semasa hulu tidak tergarap dengan cara, maka kasus di hilir menyusun, ” ujar Achmad dalam webinar yang disiarkan via internet, Jumat (10/7).


Permasalahan di hulu yang tempat maksud adalah banyak warga dengan tidak patuh dengan protokol kesehatan tubuh seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Menurutnya, tidak sedikit warga Jatim yang tidak khawatir dengan persebaran virus corona.

“Cara pandang umum terhadap Covid harus dibetulkan. Jika visi tidak sama akan pelik mengarahkan program dapat berjalan secara baik. Presiden mengarahkan tapi jika visi tidak sama, sulit, ” katanya.

Ketidakpatuhan warga, pernah ditemui Achmad dari sejumlah warga di zona Ampel, Surabaya. Mayoritas warga tidak menggunakan masker. Itu hanya meneladan di salah satu kawasan.

“Saya jalan di Ampel itu enggak ada yang memakai masker. Jadi perlu kita sadarkan. Meski ini tidak mudah, bersetuju tidak mau harus ada siasat tegas, ” ucap Achmad.

Kendala lain, lanjut Achmad, fasilitas alat tes polymerase chain reaction (PCR) yang minim dan mahal. Belum seluruh rumah sakit di Jatim memiliki fasilitas alat PCR.

Selain itu, masa tunggu hasil tes juga cukup lama. Akibatnya, penentuan kasus pasti atau negatif menjadi terlambat.

“Ada yang tiga hari, ada yang baru Sabtu-Minggu, ada juga yang 14 hari, ” katanya.

Achmad menilai perlu penegakan diagnosis yang cepat. Salah satunya melalui Tes Lekas Molekuler (TCM) dan memperbesar kapasitas PCR.

Idealnya, pengetesan dilakukan dengan jumlah 3. 500 per 1 juta penduduk. Tatkala jumlah pengetesan saat ini rata-rata masih di angka 2. 000. Kendala lain adalah kekurangan ventilator dan tenaga yang terlatih mengoperasikan.

“Sebesar RS dr Soetomo pun kesulitan, ” tuturnya.

Achmad juga menyoroti persoalan yang dihadapi ibu hamil. Di Surabaya tercatat ada 3. 500 ibu hamil dan hampir 10 persen dari jumlah tersebut terpapar corona.

“Saat ini yang dilakukan RS terhadap penapisan bumil cuma pakai rapid. Padahal rapid tak berguna kata WHO. RS bersalin khusus Covid perlu dipikirkan, ” jelasnya.

Kendala kemudian adalah masih ada stigma dalam tenaga kesehatan. Umumnya, para tenaga kesehatan mendapat penolakan di wadah tinggal hingga dari keluarga penderita.

Ia juga menggoleng stigma pada rumah sakit dengan dituduh memanfaatkan lahan bisnis pada penanganan corona. Dia kecewa dengan pihak-pihak yang beranggapan demikian.

“Stigma layanan kesehatan bisnis dalam Covid ini menyakitkan, ” ujarnya.

(psp/bmw)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.