Horor Kultus dan Magi Sungguh Nalar dalam Budaya Beken

Jakarta, CNN Indonesia —

Film  The Conjuring: The Devil Made Me Do It yang tayang kira-kira pekan lalu bukan cuma menampilkan kisah horor sebab pengalaman Ed dan Lorraine Warren, tetapi juga situasi cerita berdasarkan fenomena yang terjadi di tengah kelompok: satanic panic.

Saga ketiga sebab The Conjuring itu berlatar pada era ketika klub Amerika Serikat tengah digegerkan beragam kasus pembunuhan beserta tingkah laku orang yang dianggap berasosiasi dengan gaya gaib yang jahat, di hal ini adalah lelembut.

Anggapan itu jelas membuat banyak bangsa Amerika saat itu ketakutan. Jelas, banyak pembunuhan berantai dilakukan oleh para pengikut sekte sesat. Pelecehan anak-anak dilakukan atas nama pelaksanaan, serta beragam tindakan kebiadaban lainnya.


Kasus yang paling masyhur di era ini adalah pembunuhan oleh kultus bernama Manson Family yang dipimpin Charles Manson. Mereka terbukti membunuh aktris Sharon Tate yang tengah hamil delapan bulan secara brutal, apalagi mereka merasa kurang puas karenanya. Belum lagi dari  kejadian serupa lainnya.

Pihak berwenang pun sibuk menyelidiki ratusan dakwaan. Fenomena itu begitu merata dan dikenal dengan kaum nama, seperti ritual abuse scare, satanic ritual abuse, dan masih banyak teristimewa. Tapi hanya satu nama yang kemudian begitu dikenal hingga saat ini, yaitu satanic panic.

“Buktinya tidak ada tapi tuduhan pelecehan ritual setan (satanic ritual abuse) tidak pernah benar-benar hilang, ” kata Ken Lannig, bekas agen F. B. I yang menangani ratusan urusan ini.

Fenomena ini tergambar  dalam adat populer. Berbagai film yang menyinggung soal keberadaan kultus-kultus penyembah setan dengan bervariasi niat mereka yang mengerikan beredar selama masa satanic panic itu. Sebut saja yang paling ikonis ialah The Exorcist (1973).

Kemudian sejumlah film-film lainnya dengan menggambarkan kekuatan sekelompok orang untuk ‘menguasai’ dunia sebagai perpanjangan tangan setan, kaya saga The Omen (1970-an) hingga Trick or Treat (1986) yang menampilkan musik heavy metal.

Bersamaan dengan kehebohan bakal kultus yang menjalar ke industri film, dunia irama sebenarnya sudah lama dikait-kaitkan dengan sentimen mistik ini. Elvis Presley saja sudah dianggap kesurupan pada dekade ’50-an. Bahkan, Charles Manson menyebut tindakan kejahatan dengan ia lakukan terinspirasi dibanding lagu Helter Skelter hak The Beatles.

Sentimen itu makin kencang ketika Black Sabbath hadir bersamaan dengan genre heavy metal. Genre ini makin dicap sebagai alat perekrutan untuk setan yang menarik anak-anak muda untuk menyelundup ke dalamnya.

“Ini adalah dunia setan. Iblis telah lebih memegang kendali sekarang. Orang tak bisa bersatu, tidak tersedia kesetaraan. Menempatkan diri Kamu di atas orang lain adalah dosa. Namun, itu yang dilakukan orang-orang, ” ucap bassist Black Sabbath, Terence Michael Joseph “Geezer” Butler.

Menariknya, fenomena satanic panic dan kultus setan dalam The Conjuring 3 juga menggambarkan hal yang akrab bagi penonton di Indonesia, suatu ritual ilmu hitam dengan sebagian besar  dikenal jadi santet.

Santet  juga pernah menimbulkan kepanikan massal di Indonesia. Pada Oktober 1997, sebanyak 174 orang dibantai  karena dianggap sebagai dukun santet.  

Film “Musnahkan Ilmu Santet”. (Dok. Rapi Films)

Bukan cuma itu, beberapa waktu cerai-berai, publik digegerkan dengan kabar keberadaan babi ngepet di Depok. Meski kemudian diketahui bahwasanya hal itu adalah  rekayasa semata, kepanikan masyarakat setempat jelas tergambar dalam banyak berita.

Guru Besar Antropologi Kebiasaan Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan pada CNNIndonesia. com, bahwa bangsa masih mempercayai beragam hal mistis itu karena menilai hal-hal itu sebagai jalan cepat menyelesaikan masalah.

“Yang jelas itu ada buktinya. Intinya ideal pikir seperti itu menyelesaikan urusan. Misalnya saya pengin makmur, kemudian saya datang ke dukun dan saya jadi kaya. Itu kan informasi kalau pola pikir dukun itu benar, ” prawacana Heddy, beberapa waktu berantakan.

“Kasus-kasus itu dianggap sebagai bukti dari kebenaran arketipe pikir tadi. Selain bukti-bukti itu tadi, kemudian disosialisasikan anggota-anggota beserta bukti-bukti pendukungnya, itu akan tetap dipercaya, ” lanjutnya.

Beragam fenomena budaya berkelakuan magi dalam budaya naik daun ini akan dibahas di dalam Fokus edisi Juni 2021: Tegang Kultus Horor Budaya Pop .

Kisah yang ditampilkan di dalam seri artikel Fokus ini  tidak bermaksud mengunggulkan persekutuan maupun membenarkan asumsi tertentu, melainkan hanya mengulas pulih fenomena yang pernah terjadi dan melihatnya dari sudut pandang yang lebih saintifik.

Terlepas daripada penilaian benar-salah  soal beragam anggapan atas sesuatu yang jadi fenomena horor di tengah masyarakat, fakta kalau sebuah kejadian jadi pergunjingan juga legenda adalah keterangan bahwasanya selalu ada ruang pembahasan dan perhatian lantaran masyarakat terkait hal pada luar nalar.

(end/bac)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.