Guru Minta Program Belajar d Sendi Masuk TV Swasta

Guru Minta Program Belajar d Sendi Masuk TV Swasta

Jakarta, CNN Indonesia —

Serikat guru meminta Kementerian Pelajaran dan Kebudayaan ( Kemendikbud ) menambah program Belajar di Rumah (BdR) di TVRI   maupun televisi swasta. Ini dilakukan untuk mengikhtiarkan kendala belajar bagi anak yang tak punya gawai dan tidak mendapat bantuan kuota internet lantaran pemerintah.

“Misalnya secara menambah durasi pembelajaran [di TVRI], bisa juga dengan memperluas cakupan per sesi pembelajaran, ” membuka Masur Sipinathe dari Serikat Guru Mataram melalui keterangan tertulis, Sabtu (29/8).

Pada kalender BdR di TVRI sekarang ini, satu sesi tayangan diperuntukan untuk siswa tiga jenjang kelas sekaligus. Misalnya program setiap pukul 08. 30 menayangkan materi untuk siswa kelas 1 sampai 3 SD.


Patuh Masur, konten pada program BdR  mestinya dikembangkan supaya bisa mencakup materi per jenjang kelas bertemu kurikulum. Terlebih,   BdR sudah berjalan hampir enam bulan.

“Kelas 1 sampai 3 SD dibuat satu sesi atau satu Kompetensi Dasar (KD) penelaahan. Padahal belum tentu sesuai secara kurikulum formalnya. Jadi seharusnya KD pembelajaran bisa disesuaikan dengan kurikulum, ” lanjutnya.

Jawatan Pakar Federasi Serikat Guru Nusantara (FSGI) Retno Listyarti menyarankan Kemendikbud menggandeng stasiun TV swasta untuk merealisasikan hal tersebut.

Dengan begitu, katanya, siswa yang tidak memiliki akses belajar daring di seluruh tinggi pendidikan bisa mengikuti pembelajaran dengan jadwal belajar yang normal dalam pagi hari.

“Kerja sama dengan TV swasta menjadi kebutuhan karena sinyal TVRI juga ternyata tidak dapat diterima secara baik di sejumlah daerah. Namun, TV swasta lain malah sinyalnya diterima dengan kuat di kawasan tertentu. Ini bisa melengkapi, mampu didahului dengan pendataan, sehingga benar sasaran dan tepat kebutuhan, ” tambahnya.

Sekretaris Jenderal FSGI Heru Purnomo mengatakan cara pemerintah membantu pembelajaran luring dibutuhkan, karena bantuan kuota yang diberi Mendikbud Nadiem Makarim tak mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

“Bantuan catu internet ini tidak akan diperoleh oleh anak-anak miskin yang tidak memiliki alat daring, seperti perabot. Anak-anak di pelosok negeri yang susah sinya juga tidak mampu menikmati, ” ujarnya.

Ia menjelaskan kendala teknis dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) benar beragam di lapangan. Ada anak yang punya uang membeli bagian, tapi tak punya gawai. Kemudian punya gawai tapi tak punya kuota. Dan ada juga yang punya keduanya, tapi tak memiliki jaringan.

“Permasalahan itu harus dipetakan agar semua perkara diselesaikan sesuai kondisi dan keinginan daerah, mengingat luasnya wilayah Indonesia. Padahal semua anak wajib dilayani pembelajaran jarak jauh, ” tambah Heru.

Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi

Mendikbud Nadiem Makarim menggelontorkan Rp7, 2 triliun untuk bantuan kuota untuk siswa, guru, mahasiswa dan pembimbing. Untuk mendapat bantuan ini, pengikut didik atau pengajar tinggal mengisi data nomor HP ke Masukan Pokok Pendidikan (Dapodik).

Mulai September sampai Desember 2020, siswa bakal menerima 35 gigabyte per bulan, guru menerima 42 gigabyte per bulan, serta mahasiswa dan dosen menerima 50 gigabyte per bulan.

“Semua siswa diberi. Nah gimana wilayah yang nggak ada akses internet? Sebagian besar daerah 3T. Tersebut 80 persen di zona hijau. Jadi bisa tatap muka dengan normal. Tidak dikasih, ” sirih Direktur PAUD, Pendidikan Dasar serta Menengah Kemendikbud Jumeri, Jumat (28/9).

(fey/arh)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.