Eksplorasi ‘Liar’ The Panturas Lewat Album Ombak Banyu Cinta

Jakarta, CNN Indonesia —

Selama 13 bulan diliputi pandemi virus Corona, The Panturas   meracik musik untuk menyelesaikan album kedua mereka. Ombak Banyu Asmara tajuknya.

The Panturas yang mengusung genre surf rock mutakhir seakan tak bisa lepas dari hal berbau segara. Selain karena tajuk album kedua, tetapi juga sebab citra yang mereka tampilkan sejak merilis album pertama, Mabuk Laut (2018).

Dalam sesi dengar pada Kamis (9/9) suangi, drummer Surya Fikri Asshidiq mengibaratkan Ombak Banyu Berahi sebagai perjalanan yang berlanjut dari Mabuk Laut.


Anak-anak The Panturas seperti sedang meninggal ke berbagai tempat berbeda. Tempat-tempat itulah yang menganjurkan mereka referensi musik & tema lagu yang belum sempat terjamah di pengerjaan album pertama.

“Kami selama beberapa tarikh ini kayak menemukan beberapa hal baru dan musik yang baru kami dengar, kemudian kami tumpahkan disini. Banyak eksplorasi di sini, ” kata Kuya, sapaan karib Surya.

Bila didengarkan, eksplorasi musik The Panturas hampir terasa di seluruh lagu Ombak Banyu Berahi. Meski masih didominasi perabot gitar dengan reverb dengan menjadi khas surf rock, ada beberapa lagu dengan eksplorasinya cukup liar.

Tafsir Mistik misalnya. Lagu ini sangat liat dengan elemen musik melayu, mulai dari suara perangkat akordeon, ketukan drum, datang scale gitar. The Panturas sukses mengawinkan surf rock dengan musik melayu.

Begitu pula dengan lagu Masalembo yang tak kalah liar dan menjadi lagu yang paling beda dari yang lain. Itu mencampurkan surf rock dengan rockabilly. Vokal Nesia Ardi yang ciamik melengkapi rani ini.

The Panturas sendiri tidak memperhitungkan bahwa genre surf rock sangat luas dan mampu dikawinkan dengan berbagai genre lain. Saat menggarap rekaman pertama mereka sempat khawatir akan jalan di tempat, seperti ‘terkurung’ dengan surf rock.

“Kalau membatasi musik jelas, sebab (surf rock) itu irama yang pengin kami mainkan. Tapi ternyata eksplorasi surf rock belum terbataskan, belum ketemu batasnya, ” sirih vokalis Abyan Nabilio alias Acin.

Acin mengaku musisi asal Jepang, Takeshi Terauchi, menjadi salah satu yang paling menginspirasi soal petikan gitar. Musisi lain yang turut menginspirasi adalah Yanti Bersaudara serta Wilmot Houdini.

[Gambas:Youtube]

Bukan hanya musik, Ombak Banyu Asmara pula menjadi wahana eksplorasi inti lagu bagi The Panturas. Menurut pemain bass Cantik Patria alias Gogon, hal itu terlihat jelas daripada lagu bertema laut dengan minim.

“Kalau dulu hampir semua lagi berkaitan dengan laut, ataupun sesuatu di daratan secara metafora laut. Kalau sekarang lebih luas, misalnya cara Balada Semburan Naga, Jim Labrador, atau Tipu Gaya, ” kata Gogon.

Dari 10 lagu hanya ada empat rani yang bertema laut, yaitu Area Lepas Pantai serta Menuju Palung terdalam yang merupakan lagu instrumental, beserta Tipu Daya dan Masalembo.

Kuya mengungkapkan bahwa pembuatan lagu bertema tentang laut mengalir begitu saja. “Reflek” katanya. Tema laut seolah-olah sudah tertanam dalam negeri bawah sadar anak-anak The Panturas.

Ya, bila menengok ke pungkur, surf rock memang berdiri di Southern California, Amerika Serikat, yang dekat secara lautan. Tak heran masa surf rock identik dengan laut dan tak tersedia salahnya membuat lagu bertema laut.

“Bisa jadi kami meninggalkan lagak bertema laut. Tapi saya enggak akan meninggalkan surf rock, ” kata Kuya merespons pertanyaan sejauh mana eksplorasi tema lagu & musik The Panturas.

[Gambas:Video CNN]

(adp)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.