Demo George Floyd dan 'Peluru' Untuk Para Seteru AS

Demo George Floyd dan ‘Peluru’ Untuk Para Seteru AS

Jakarta, CNN Indonesia — Gejolak yang terjadi di  Amerika Serikat semasa lebih dari sepekan akibat gerak-gerik kekerasan polisi terhadap seorang adam kulit hitam di Minneapolis, George Floyd , kembali menguak luka tentang sikap diskriminasi ras di negeri itu.

Akan tetapi, perkara tersebut justru menjadi senjata bagi negara-negara seteru AS untuk menghajar balik.

Pemimpin Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menyatakan kasus yang menimpa Floyd adalah tujuan sikap mendua AS soal sah asasi manusia.

“Mereka melakukan kejahatan secara terbuka, dan mereka tidak meminta maaf. Namun, dengan tetap tidak tahu aib mereka masih berbicara soal sah asasi manusia, ” kata Khamenei dalam pidato peringatan kematian majikan Revolusi Iran, Ayatullah Ruhullah Khumaini.

“Slogan yang disampaikan oleh penduduk Amerika, yaitu ‘Biarkan saya bernapas’ atau “Kami tidak mampu bernapas’ muncul dari dalam hari mereka yang paling dalam dan senada dengan negara-negara yang itu tindas, ” ujar Khamenei, serupa dilansir Associated Press .

Menteri Luar Daerah Iran, Muhammad Javad Zarif menyatakan mengecam cara AS menghadapi masyarakat sipil yang melakukan unjuk menikmati.

“Kami mengutuk pemerintah yang menggunakan taktik yang menekan pengunjuk rasa dengan pemenjaraan dan melanyak rasa frustasi penduduk AS, ” kata Zarif.

Padahal pada November 2019 lalu, negeri Iran juga menghadapi gelombang muncul rasa dengan mengerahkan aparat ketenangan. Mereka menangkap ribuan orang, membasmi ratusan orang serta memutus jaringan internet.

Menurut pesan lembaga pemantau HAM, Human Rights Watch, pemerintah Iran kerap membui aktivis yang memiliki pandangan politik berseberangan atau mengkritik kebijakan negeri hingga pegiat lingkungan.

[Gambas:Twitter]

China yang tengah bertarung hebat dengan AS di kancah kebijakan dunia, mulai dari perang kulak hingga saling menyalahkan soal pandemi virus corona, juga menggunakan jalan ini untuk menyerang.

Juru Bicara Kementerian Luar Jati China, Zhao Lijian, mengatakan peristiwa tersebut juga menggambarkan sikap negeri AS yang tidak pernah tetap mengurus persoalan hak asasi pribadi, serta memperlihatkan masalah rasisme dan kekerasan polisi di negeri Paman Sam yang terus menerus terjadi.

“Kehidupan orang indra peraba hitam juga adalah masalah tumbuh. Hak asasi manusia mereka juga harus dijamin, ” ujar Zhao.

Di sisi lain, China juga dinilai memiliki cacat ketika menghadapi aksi unjuk mengalami di Lapangan Tiananmen pada April 1989, yang menewaskan ribuan demonstran.

Saat itu, para demonstran menuntut supaya praktik korupsi kebijakan dan nepotisme di tubuh Kelompok Komunis China diakhiri.

Mereka juga meminta pemerintah melakukan perombakan ekonomi dan menangani inflasi.

Rusia yang juga menjelma seteru AS ikut berkomentar terpaut gejolak yang terjadi di negeri itu.

“Amerika Serikat mempunyai masalah hak asasi dengan terus menumpuk, yakni diskriminasi ras, etnis, dan agama, kekerasan polisi, sistem keadilan yang bias, tangsi yang penuh, itu hanya kurang antara lain, ” demikian isi penjelasan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Aksi demonstrasi simpati di New York atas moralitas warga kulit hitam di AS, George Floyd. (AP/Alex Brandon)

Rusia juga dilaporkan menangani keras kelompok oposisi yang menentang pemerintahan. Bahkan, tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, dilaporkan sempat ditangkap dan dibuang ke Siberia.

Korea Utara yang juga berseteru dengan AS turut mengomentari mengenai kejadian yang menewaskan Floyd.

“Para demonstran marah sebab sikap rasisme ekstrem yang memenuhi bahkan hingga Gedung Putih. Itu adalah kenyataan AS saat tersebut. Liberalisme dan demokrasi Amerika mengekalkan polisi menghadapi demonstran dan makin mengancam melepaskan anjing untuk menindas (mereka), ” ujar juru kata Departemen Hubungan Luar Negeri Golongan Buruh Korea (WPK). (ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.