Asdianto Baso Klaim Tak Berperan Penjualan Pulau Lantigiang

Jakarta, CNN Nusantara —

Tersangka jual beli Pulau Lantigiang   yang berada di kawasan konservasi Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, Sulawesi Daksina , Asdianti Baso membantah dirinya tak menutup panggilan penyidik Polres Selayar.

Asdianti tunggal telah masuk dalam Jadwal Pencarian Orang (DPO) Polres Selayar setelah tiga kala mangkir pemeriksaan. Pihak kepolisian menyimpulkan Asdianti melarikan muncul.

“Panggilan pertama pihak petugas sudah tau kalau beta berada di Dubai. Panggilan kedua saya tidak penuhi karena positif Covid-19, maka tidak bisa pulang ke Indonesia. Ini oknum kepolisian Selayar memang sudah kelewatan dan juga pihak Bangsal Taman Nasional, ” introduksi Asdianti, Jumat (30/4).


Asdianti menengkari terlibat dalam kongkalikong penjualan dan pemalsuan akta kepemilikan lahan Pulau Lantigiang. Ia mengaku tak akan status diam setelah ditetapkan jadi tersangka dan menjadi DPO.

“Saya dituduh tersangka dan dijadikan DPO, saya tidak akan tenang karena semua yang dituduhkan kepada saya itu tidak benar, ” kata Asdianti.

Asdianti mengklaim dirinya cuma sebagai korban dalam pemasaran Pulau Lantigiang ini. Dia mengaku telah mengalami kecelakaan materiel yang sangat penuh pada kasus ini.

“Saya sudah siapkan praperadilan. Rencana hari tersebut akan didaftar dan menodong sidang terbuka untuk ijmal biar masyarakat luas tau dan jelas jalannya sidang, ” ujarnya.

Lebih lanjut, Asdianti mendakwa Polres Selayar terlalu mengeklaim kasus ini lantaran dirinya dianggap ikut terlibat di dalam pemalsuan dokumen akta asli surat kepemilikan tanah dalam atas lahan Pulau Lantigiang.

“Saya tidak kenal dengan semua dengan tanda tangan di surat kepemilikan dan tidak pernah ketemu. Kecuali Pak Syamsul Alam yang mengaku memiliki lahan. Akta otentik adalah akta yang dibuat & dipersiapkan oleh notaris, ” katanya.

Asdianti mengakui sudah membuat perjanjian dengan Syamsul Alam, yang memiliki tanah di Pulau Lantigiang. Dalam perjanjian itu, ia menyerahkan uang panjar pembelian tanah di pulau tersebut sebesar Rp10 juta.

Menurut Asdianti, dirinya mengambil lahan di Pulau Lantigiang itu karena ingin membuat pariwisata di Kepulauan Selayar dan meningkatkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Asdianti pun berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menyerahkan perhatian terhadap dirinya dengan ingin mengembangkan pariwisata. Dia juga meminta masyarakat Selayar dapat membuka mata dalam kasus ini.

“Saya yakin ada perseorangan tertentu yang ingin membatalkan proyek saya di dukuh sendiri, padahal Indonesia ada 17. 000 Pulau dengan cantik yang bisa pada kembangkan dan bisa dimanfaatkan, ini kan bisa membuat lapangan kerja bagi umum Selayar, ” ujarnya.

Sebelumnya, Polres Selayar menetapkan tiga tersangka dalam kasus penjualan Pulau Lantigiang ini. Para-para tersangka itu yakni, keponalam Syamsul Alam, Kasman; Besar Desa Jinato, Abdullah; serta Asdianti Baso selaku konsumen lahan.

Tanah disebut bakal dijual seharga Rp900 juta. Dikutip daripada tntakabonerate. com, Pulau Lantigiang yang masuk dalam pemerintahan Desa Jinato memiliki besar sekitar 10 hektare.

(mir/fra)

[Gambas:Video CNN]

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.